Mengawali tahun ajaran baru, SMP Walisongo Pecangaan mengadakan pertemuan dengan wali murid. Acara yang berlangsung di ruang multimedia tersebut dilaksanakan dalam tiga sesi belum lama ini. Sesi pertama untuk wali murid kelas VII, kedua untuk wali murid kelas VIII dan sesi ketiga bagi wali murid kelas IX.
Selain untuk menyosialisasikan program, pembiayaan, dan tata tertib sekolah, pertemuan tersebut juga bertujuan untuk menciptakan sinergi positif antara orang tua dan sekolah. Melalui kegiatan yang bertajuk “Parenting Session” tersebut sekolah ingin mengajak orang tua untuk lebih memahami berbagai aspek perkembangan anak, termasuk kebutuhan emosional, kognitif, dan sosial mereka.
Kepala SMP Walisongo Pecangaan, Nurul Zulaeha, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa anak bukan hanya butuh ilmu, tetapi juga perhatian, konsistensi, dan dukungan dari orang terdekatnya. Guru menanam ilmu dan karakter sementara orang tua menyiramnya agar tumbuh menjadi pribadi kuat. “Ketika di sekolah, pendidikan anak menjadi tanggung jawab sekolah. Namun, saat mereka di luar jam sekolah, peran dan tanggung jawab orang tua sangat dibutuhkan.” imbuhnya.
Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, Dwi Erlin Effendi, M.Pd. Motivator yang juga berprofesi sebagai dosen di UNISNU Jepara tersebut membagikan pengalamannya dalam mendidik sang buah hati. Selain itu, ia juga menyampaikan materi mengenai pentingnya pemahaman orang tua tentang ilmu parenting dan pola asuh anak.
“Setiap anak memiliki karakter dan keunikan masing-masing. Oleh karena itu, perlu ada sentuhan berbeda dari orang tua kepada setiap anak. Bukan bermaksud membeda-bedakan, tetapi hal ini penting demi tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimiliki.” Terang ibu dari empat anak tersebut. Saat ini, anak ketiga beliau duduk di bangku kelas VII SMP Walisongo Pecangaan.

Dwi Erlin juga mengingatkan pentingnya kedekatan orang tua dengan anak. Anak yang tidak pernah diajak dialog orang tuanya sejak kecil akan mengalami lazy mind (malas berpikir). Anak-anak yang terkena lazy mind biasanya akan sering mengatakan “terserah ayah” atau “terserah ibu”. Padahal, di balik kata “terserah”, tersimpan makna bahwa mereka tidak mau ribet dan berpikir. Akibatnya, mereka cenderung tidak memiliki kreativitas dalam mengatasi permasalahan (problem solving). Hal ini tentu berbahaya.
Direktur Eksekutif Yayasan Walisongo Pecangaan, H. Adib Khoiruzzaman, S.Ag., M.Pd. mengapresiasi inisiatif SMP Walisongo untuk menggelar Parenting Session. Dalam sambutannya, putra K.H. Mahfudh Asymawi tersebut mengajak para orang tua untuk terus bersinergi dengan sekolah demi mewujudkan visi sekolah dan cita-cita orang tua. “Peran orang seharusnya tidak sekadar pemenuhan biaya sekolah saja, tetapi juga berupa ikhtiyar batin. Doa dan tirakat orang tua sangat penting demi kesuksesan sang buah hati.” Pungkas beliau mengakhiri sambutan.
Sementara itu, Purwanto, salah seorang wali murid, menyampaikan tanggapan positifnya. Ditemui tim media sekolah sesaat setelah acara usai, entrepreneur yang anaknya duduk di kelas VII tersebut mengaku mendapat banyak manfaat dan inspirasi dari acara yang mengusung tema “Menjadi orang tua hebat, membentuk generasi dahsyat” tersebut. “Sangat inspiratif. Acara seperti ini dapat menambah wawasan, khususnya apa yang perlu dimiliki dan dilaksanakan para orang tua dalam mengantarkan anak menuju masa depan sesuai bakat yang dimilikinya,” ucapnya.
WhatsApp
Facebook
Telegram



